Mitos Atau Fakta! Juara MotoGP dan Penjualan Motor

MotoGP

Keberhasilan meraih gelar juara dunia MotoGP sering dianggap sejalan dengan kenaikan penjualan unit sepeda motor terhadap tim juara tersebut.  Hal semacam itu dianggap berkaitan dengan tanah kelahiran kita, Indonesia. Lantas hal itu fakta atau hanya sekedar mitos?

MotoGP
Mitos atau Fakta? Juara MotoGP tingkatkan penjualan unit motor tim juara

Bukan hanya hal yang membanggakan bagi tim yang berhasil memenangi gelar juara dunia di ajang MotoGP. Tetapi, motor merk sang juara itu juga akan ikut terangkat. Akan tapi, keberhasilan tim dalam menjuarai MotoGP tidak sepenuhnya dapat dikaitkan dengan persoalan penjualan.

Sekilas, apabila dilihat dari data penjualan motor di Tanah Air dengan tim pemenang MotoGP dalam kurung waktu 2006 hingga 2015 lalu. Pencapaian cemerlang di ajang balap paling bergengsi itu memang berbanding lurus dengan nilai kenaikan penjualan unit sepeda motor.

Pada musim 2008 hingga 2010 lalu, ketika Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi meraih gelar juara dunia bersama tim Yamaha. Rata-rata penjualan pabrikan asal Jepang pada kurung waktu tiga tahun itu mengalami kenaikan mencapai angka 13,5 persen setiap tahunnya.

Sebelumnya di tahun 2008, sebanyak 2,4 juta unit sepeda motor Yamaha terjual. Setahun berikutnya, naik menjadi 2,6 juta unit. Dan di tahun 2010, mengalami kenaikan yang cukup tinggi, yakni sebanyak 3,3 juta unit terjual.

Ternyata, hal itu juga terjadi pada Honda. Pada saat pembalapnya, Marc Marquez berhasil mengangkat trofi juara dunia sebanyak dua musim berturut-turut, yakni musim 2013 dan 2014. Tingkat penjualan motor Honda di Indonesia juga mengalami kenaikan, bahkan hingga 10 persen.

Di tahun 2012 ketika Honda tidak keluar sebagai juara, penjualannya hanya mencapai 4 juta unit. Akan tapi, naik menjadi 4,6 juta di tahun 2013. Hingga puncaknya di tahun 2014, 5 juta unit sepeda motor Honda terjual. Bahkan pada tahun 2011 lalu ketika Casey Stoner juara, Honda juga mengalami peningkatan 20 persen.

Ibaratkan Dua Sisi Mata Uang

Ketika tim motor di MotoGP gagal meraih gelar juara dunia, penurunan penjualan juga terjadi. Khususnya bagi produsen Honda. Dimana pada musim 2007, pada saat Ducati keluar sebagai juara, membuat penjualan motor pabrikan Jepang itu mengalami penurunan yang mencapai minus sembilan persen.

Marc Marquez
Musim 2016 lalu, Marc Marquez kembali meraih gelar juara dunia MotoGP

Ternyata, hal itu juga dialami oleh Yamaha, tepatnya pada tahun 2009 lalu. Tahun tersebut, penjualan Yamaha turun hingga mencapai angka enam persen. Pada tahun 2012 juga turun empat persen.

Puncaknya tahun 2015, Yamaha harus mencatat angka terbesar dalam satu dekade. Pasalnya, penurunan penjualan mencapai 13 persen. Kondisi seperti juga terjadi pada tahun 2011 sebesar enam persen dan 2014 sebesar lima persen.

Akan tetapi jika ditelisik lebih dalam, data-data yang telah dipaparkan di atas itu setidak sepenuhnya dikatakan benar. Terdapat beberapa anomali yang terjadi apabila mengaitkan status juara MotoGP dan data penjualan motor.

Tidak Tergantung MotoGP

Apabila membandingkan persentase rata-rata angka pertumbuhan penjualan antara Yamaha dengan Honda dalam kurung waktu 2006 hingga 2015. Maka pemenangnya adalah Honda, yang mencatatkan rerata 6 persen setiap tahunnya. Sementara Yamaha, cederung stagnan tidak mengalami pertumbuhan atau 8 persen.

Jorge Lorenzo
Jorge Lorenzo menjadi juara MotoGP musim 2015

Padahal jika diperhatikan dalam kurung waktu tersebut, Yamaha lebih banyak meraih gelar juara dunia MotoGP dibandingkan Honda. Yakni, Yamaha sebanyak lima kali dan Honda hanya empat kali.

Sehingga hal yang menentukan penjualan unit sepeda motor di Indonesia bukan tergantung pada pergelaran MotoGP. Bukan seorang Valentino Rossi, Marc Marquez, Casey Stoner ataupun Jorge Lorenzo. Dengan kata lain, bahwa juara MotoGP akan berdampak pada data penjualan unit motor sang juara itu sendiri adalah mitos.

Perlu Tahu! Seperti Ini Format Piala Dunia 48 Tim

Piala Dunia 2026

Secara resmi, FIFA selaku otoritas tertinggi sepakbola dunia telah mengumumkan. Bahwa pergelaran Piala Dunia 2026 mendatang akan diikuti oleh 48 tim. Dari sebelumnya hanya sebanyak 32 negara yang mengambil bagian turnamen empat tahunan sekali ini.

FIFA
FIFA resmi menambah peserta Piala Dunia 2026 mendatang menjadi 48 tim, dari sebelumnya 32 tim

Berdasarkan proposal yang dimuat oleh Biro FIFA, bahwa UEFA (konfederasi Eropa) akan memperoleh jatah langsung sebanyak 16 tim. Sedangkan, CAF (Afrika) hanya mendapatkan sembilan jatah tim, AFC (Asia) delapan negara, CONMEBOL dan CONCACAF masing-masing hanya dapat enam negara. Satu jatah terakhir akan didapatkan oleh negara bagian Oseania.

Negara yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia, pada babak utama kompetisi, negara tersebut berhak otomatis lolos. Dengan jatahnya dialokasikan ke konfederasi setempat. Sehingga secara total tiket yang telah diketahui adalah sebanyak 46 tim.

Dua tiket sisanya akan diperebutkan melalui sistem play-off. Dimana sistem tersebut bakal diikuti oleh enam negara. Adapun waktu berlangsungnya play-off pada bulan November, tepat sebelum babak utama dimulai.

Secara tidak langsung, sistem play-off yang baru ini akan menggantikan turnamen play-off antarkonfederasi yang sebelum-sebelumnya diterapkan pada edisi Piala Dunia dengan 32 tim. Pada nantinya, turnamen play-off sistem baru ini akan diikuti oleh enam negara dari setiap konfederasi, terkecuali Eropa.

Edisi Piala Dunia sejauh ini tetap akan diikuti oleh sebanyak 32 tim. Namun pada edisi 2026 mendatang, FIFA melakukan sebuah gebrakan sendiri dengan menambahkan tim menjadi 48 negara.

Pro Kontra Piala Dunia 2026

Meskipun edisi Piala Dunia 2026 akan digulir satu dekade lagi, akan tetapi pro dan kontra mengenai penambahan tim menjadi 48 negara dari sebelumnya 32 tim mulai mencuat.

Piala Dunia 2026
Pro dan kontra mengenai Piala Dunia 2026 yang menjadi 48 tim

Gianni Infantino selaku Presiden FIFA telah merealisasikan harapannya untuk meningkatkan jumlah partisipasi tim di pergelaran Piala Dunia sebanyak 50 persen. Nantinya, seluruh negara akan terbagi menjadi 16 grup, dimana masing-masing grup akan terdiri dari tiga tim. Dua tim yang berhasil finish di urutan teratas, maka berhak lolos ke fase knockout atau babak gugur 32 besar.

Sejauh ini memang belum ditentukan siapa yang bakal menjadi tim tuan rumah Piala Dunia 2026 mendatang. Akan tetapi, para pengamat sepakbola memprediksi bahwa pergelaran ajang empat tahunan pada edisi 2026 nanti akan dilangsungkan di zona CONCACAF (Amerika Tengah, Amerika Utara, Kepulauan Karibia). Atau bahkan kembali ke UEFA (Eropa).

Tidak menutup kemungkinan juga Piala Dunia 2026 nanti diselenggarakan di beberapa negara, seperti yang akan terjadi pada pergelaran Piala Eropa 2020. Jangan dilupakan juga bahwa zona OFC (Oseania) belum sekalipun mencicipi sebagai tuan rumah.

Namun dari pro dan kontra mengenai 48 tim, ternyata terdapat beberapa keuntungan dari sistem tersebut. Berikut ini keuntungan selengkapnya.

Keuntungan Piala Dunia 48 Tim

Piala Dunia 2026
Berbagai keuntungan Piala Dunia 2026 yang menjadi 48 tim
  • Menarik Dalam Hal Hiburan

16 grup akan berisikan masing-masing tiga negara. Dan hanya dua negara teratas yang berhak lolos ke fase berikutnya. Mungkin sebagian akan memandang bahwa tensi persaingan berkurang. Namun pengurangan gengsi laga itu hanya dikarenakan faktor semakin banyaknya negara yang berpartisipasi. Secara total, akan ada 80 pertandingan yang berlangsung.

  • Acara Budaya, Ekonomi Dan Sosial

Para peneliti di bidang sport management dan sport tourism juga telah melakukan peninjauan mengenai keuntungan Piala Dunia 2026 yang bakal diikuti sebanyak 48 tim. Dimana di setiap penyelenggaraan festival olaharaga akan mewarisi berbagai hal. Diantaranya, jenis olahraga itu sendiri, urban, lingkungan, sosial dan tentu ekonomi.

Tak dapat dipungkuri juga bahwa berbagai ajang Internasional, termasuk Piala Dunia akan mampu meningkatkan perekonomian negara setempat. Pengembangan tersebut secara rasional bakal lebih berakibat pada aspek budaya, ekonomi dan sosial.

Megah! Kehidupan Lewis Hamilton Di Luar Lintasan

Lewis Hamilton

Para pencinta dunia balap mobil, terkhusus Formula 1, tentu sudah tidak asing lagi dengan nama Lewis Hamilton. Muda penuh dengan prestasi, itulah gambaran yang tepat untuk rider Mercedes. Ia juga sudah pernah mencicipi gelar juara dunia pada musim 2014 dan 2015.

Lewis Hamilton
Gaya hidup seorang Lewis Hamilton

Dengan berbagai prestasi yang diperoleh di atas lintasan, pria asal Inggris itu mendapatkan berbagai penghargaan. Tidak hanya berupa trofi, tetapi berbentuk materi.

Uang yang terhitung mewah, tentu membuat gaya kehidupan Hamilton juga menjadi serba mewah. Anda tentu penasaran seperti apa kehidupan Hamilton di luar lintasan? Berikut ini ulasan selengkapnya kehidupan super glamour Hamilton. Baik dari hasil pendapatannya maupun nilai kekayaan yang dirinya peroleh dari profesinya sebagai pebalap jet darat.

Nilai Kekayaan Lewis Hamilton

Salah satu pendapatan terbesar yang Hamilton peroleh berasal dari kontraknya bersama Mercedes. Pada musim ini, Mercedes baru saja mengeluarkan dana yang mencapai angka fantastis, yakni sebesar 100 juta poundsterling.

Angka tersebut jika di Rupiah-kan sekitar Rp 1,7 triliun. Dana itu sendiri untuk tetap mempertahankan Hamilton di tim pabrikan asal Jerman. Nilai sebesar ternyata membuat mantan Presiden FIA, Max Mosley marah.

Lewis Hamilton
Lewis Hamilton bersama mega bintang sepakbola, Neymar

Pendapatan tersebut tentu lebih besar jika dibandingkan pertama kalinya Hamilton dikontrak oleh Mercedes-Benz dari McLaren pada musim 2012. Kala itu, Mercedes hanya mengelontorkan dana sebesar 1oo juta dollar atau Rp 1,3 triliun.

Bandingkan juga pada saat Hamilton yang baru pertama kalinya berkiprah di ajang F1 bersama tim McLaren. Pada saat itu, tim pabrikan asal Jepang tidak merogoh kocek satu persen pun untuk menjadikan Hamilton sebagai rider kedua.

Sebagai informasi, Fernando Alonso masih menjadi pembalap utama tim McLaren. Dan Hamilton merupakan lulusan dari McLaren Driver Development Support.

Pendapatan tidak hanya berasal dari F1, pria kelahiran 7 Januari 1985 itu juga memperoleh kekayaan yang diperoleh berkat kontrak dengan sejumlah perusahaan lainnya. Diantaranya seperti jam tangan IWC, Monster Energy dan Bombardier serta L’Oreal yang merupakan perusahaan komestik. Gabungan dari seluruh kontrak tersebut mencapai angka Rp 103 miliar setiap tahunnya.

Dilansir dari salah satu media keuangan mengungkapkan bahwa Hamilton setiap tahunnya menerima uang tunai mencapai Rp 604 miliar. Sementara secara total, Rp 1,826 triliun merupakan nilai kekayaan milik Lewis Hamilton.

Lewis Hamilton Dan Status Selebritas

Bukan rahasia umum lagi bahwa Lewis Hamilton memiliki gaya hidup yang mewah dan glomor. Bahkan, peraih tiga gelar juara dunia itu kerapkali menghadiri beberapa acara peragaan busana terkenal di dunia. Dan Ia juga menjalin hubungan dengan para petinggi dunia fashion.

Lewis Hamilton
Lewis Hamilton ketika menghadiri acara peragaan busana

Pada awal musim Formula 1 2017, Hamilton menghadiri tiga acara peragaan busana. Diantaranya yakni, Milan Fashion Week, London Fashion Week dan Paris Fashion Week. Pada saat di Ibukota Perancis, Hamilton terlihat tengah menggandeng seorang model cantik nan seksi bernama Sofia Richie.

Karena seringkali tampil di atas karpet merah, membuat Hamilton menyandang sebagai seorang selebritas. Predikat yang diberikan kepada dirinya itu, ternyata justru menjadi hal yang positif.

“Selama saya selalu memberikan yang terbaik di atas lintasan yang mencetak sejumlah prestasi, maka hal itu (predikat selebritas) tidak akan menjadi masalah. Saya akan memiliki modal ketika pensiun nanti, jika orang-orang mengenal pribadi saya baik ketika berada di trek balap maupun di atas karpet merah,”

“Jika seorang pembalap dikenali ketika dirinya berada di atas mobil. Namun tidak mengenali orang itu ketika berada di atas karpet merah. Hal itu menjadi alasan kenapa mereka kembali ke trek balap. Namun saya memiliki rencana yang lain,” ungkap Hamilton.

Wow! Rekor Fantastis Milik Schumacher

Michael Schumacher

Michael Schumacher saat ini tengah berusaha untuk melawan penyakit yang dideritanya. Akibat mengalami kecelakaan ski di pengunungan Alpen yang terjadi pada 29 Desember 2013 lalu. Kabarnya, penyakit yang diderita oleh legenda Formula 1 adalah cedera parah di bagian kepala.

Michael Schumacher
Michael Schumacher, legenda hidup Formula 1

Keselamatan Schumacher ditunggu-tunggu oleh para penggemar jet darat di seluruh dunia. Pasalnya, pria kelahiran Hurth, Jerman 3 Januari 1969 ini menjadi satu-satunya rider yang berhasil meraih gelar juara dunia F1 sebanyak tujuh trofi. Bahkan, rekor lima kali juara secara beruntun hingga kini juga belum terpecahkan.

Tidak hanya dua rekor diatas, masih banyak rekor-rekor yang diciptakan oleh Schumacher di ajang balap mobil paling bergengsi di dunia. Meskipun dirinya saat ini tengah berbaring lemah mendapatkan perawatan dari tim medis.

Dilansir dari salah satu media otomotif terpercaya, bahwa terdapat beberapa rekor milik Schumacher yang hingga kini belum ada seorang pembalap pun yang berhasil melewatinya. Berikut ini daftar selengkapnya.

Rekor Mustahil Milik Michael Schumacher

Michael Schumacher
Michael Schumacher jadi pembalap paling banyak meraih gelar juara dunia
  • Lima Kali Juara Dunia Secara Beruntun

Puasa gelar hampir 21 tahun yang dialami oleh Ferarri pada akhirnya berhenti di musim 2010. Adalah Michael Schumacher yang berhasil keluar sebagai juara dunia untuk pertama kalinya bersama Ferrari.

Seperti membebaskan Ferarri dari kutukan, rider asal berkebangsaan Jerman itu mampu kembali menampilkan performa terbaiknya di atas lintasan. Hasilnya, Ia kembali meraih gelar juara dunia di musim berikutnya. Bahkan, di tiga musim berikutnya, gelar juara dunia jatuh ke tangan Schumacher.

Sehingga, Schumacher memegang rekor sebagai pembalap F1 yang berhasil meraih lima gelar juara dunia secara beruntun. Catatan fantastis tersebut sejauh ini belum terpecahkan. Termasuk oleh Sebastian Vettel yang sejatinya memiliki kesempatan untuk memecah rekor tersebut. Namun, Vettel hanya berhasil meraih empat gelar secara beruntun, dari musim 2009 hingga 2013.

  • Kemenangan Grand Prix Terbanyak

Secara total, Schumacher telah meraih gelar juara dunia F1 sebanyak tujuh kali. Sehingga membuat dirinya menjadi pembalap yang kerapkali naik ke podium di setiap musimnya. Tercatat, ketika meraih gelar juara, sang legenda F1 yang kini berusia 48 tahun itu memenangkan total 91 Grand Prix.

Jumlah tersebut tentu meninggalkan jauh dari para pembalap lainnya. Diantaranya rider asal Perancis, Alain Prost yang hanya 51 kali, dan legenda Brasil, Ayrton Senna hanya 41 kali.

Sedangkan pembalap yang masih berkiprah di F1 hingga kini, seperti Sebastian Vettel (39), dan Lewis Hamilton (33) serta Fernando Alonso dengan 32 kemenangan, belum juga berhasil memecahkan rekor milik sang legenda hidup F1.

  • Kemenangan Terbanyak Dalam Satu Musim

Pada saat Schumacher mengunci gelar ketiganya bersama Ferarri di musim 2002, Ia sukses naik ke podium tertinggi (juara satu) sebanyak 13 kali. Bahkan, Ia kembali mencatatkan rekor tersebut pada musim 2004.

Kini, rekor tersebut baru bisa disamakan oleh Sebastian Vettel di musim 2013. Namun, catatan istimewa itu belum terpecahkan.

Rekor Delapan Kemenangan Di Tempat Yang Sama

Michael Schumacher dengan Sirkuit Magny-Cours yang berada di Perancis, nampaknya memiliki ikatan batin yang kuat. Pasalnya, Schumi mampu meraih kemenangan di sirkuit tersebut. Tidak hanya sekali, tetapi sebanyak delapan kali Schumacher berhasil keluar sebagai yang tercepat di sirkuit tersebut.

Michael Schumacher
Michael Schumacher meriah kemenangan sebanyak delapan kali di Sirkuit Magny-Cours

Rekor kemenangan terbanyak dalam satu musim milik Schumacher ini begitu jauh untuk dipecahkan oleh para pebalap lainnya. Terdekat, Lewis Hamilton dengan meraih kemenangan sebanyak empat kali di Sirkuit Hungaroring, Budapest, Hungaria. Dan Sebastian Vettel yang juga memiliki torehan yang sama dengan Hamilton, namun dirinya mencatatkan rekor itu di GP Jepang.

Mencengangkan! Sejarah MotoGP di Indonesia

MotoGP Indonesia

Sejarah MotoGP di Indonesia terjadi ketika pertama kali mengudara melalui layar kaca pada pertengahan tahun 1990-an. Ajang lomba balap kendaraan beroda dua paling bergengsi di dunia ini secara perlahan mampu menarik perhatian.

MotoGP Indonesia
Indonesia sempat jadi tuan rumah MotoGP musim 1996 dan 1997

Terlebih Tanah Air, yang dahulu kala sempat mengambil bagian dengan menjadi tuan rumah pada musim 1996 hingga 1997. Pada saat itu, Valentino Rossi masih bermain di kasta ketiga, yakni 125cc.

Kompetisi yang berjalan dengan ketat, ditambah lagi dengan aksi para rider dan drama yang terjadi diluar lintasan. Menjadikan ajang MotoGP ini sebagai kiblat para pembalap di Indonesia. Tidak heran, Indonesia berada di urutan pertama di dunia dalam hal penggemar MotoGP.

Lin Jarvis selaku bos besar Yamaha Racing Team mengatakan: “Indonesia merupakan negara dengan pasar motor yang sangat penting. Dan banyaknya para penggemar MotoGP disana,” ungkap Lin.

Pertumbuhan fanbase yang berjalan begitu pesat, nyatanya tidak hanya berdampak besar bagi ajang MotoGP itu sendiri. Melainkan juga sangat berpengaruh akan masa depan dunia balap di Tanah Air.

Tidak hanya sekedar menjadi penonton belaka. Tetapi para penggemar MotoGP di Indonesia juga senang dengan balapan. Tak hayal, sebagian dari mereka ingin mengikuti ajang balap Nasional. Tentu saja dengan target utama adalah dapat mencicipi kerasnya persaingan MotoGP.

Berawal Dari Tahun 90-an

Semua impian masyarakat Indonesia, terkhusus mereka yang suka balapan untuk dapat berpartisipasi di ajang MotoGP. Sempat terbuka oleh tiga rider senior, adalah Ahmad Wijaya, Rudi Arianto dan Petrus Canisius. Yang pada saat itu mereka tampil sebagai rider wildcard di Indonesia.

Doni Tata
Doni Tata ketika melakukan berkancah di Moto2

Walaupun mengakhiri balapan di Sentul dengan finish terakhir. Dan mereka bertiga mendapatkan jalur khusus di MotoGP pada saat itu. Mengingat Indonesia sebagai tim tuan rumah. Akan tetapi, ketiga memberikan inspirasi dan motivasi bagi para pebalap junior-junior. Bahwa ada kesempatan untuk dapat tampil di ajang tertinggi dunia balap motor, MotoGP.

Hingga muncul seorang pembalap bernama Hendriansyah. Seorang pria kelahiran Yogyakarta yang dijuluki sebagai ‘dewanya road race’. Julukan itu seiring dengan pencapaian prestasi Hendri di dunia balap Indonesia.

Pada era underbone 2-tak, rider ini berhasil meraih beberapa gelar juara bergengsi. Antara lain seperti Kejurnas 110 Grade A pada tahun 1998 hingga ajang Road Race 110 4-tak.

Tidak berhenti disitu, Hendri juga berhasil menyita perhatian tim asal Tiongkok, Macau Zhongsen Racing Tea. Hasilnya, Hendri direkrut oleh tim tersebut. Dan berhasil meraih gelar juara 11 pada ajang Supersport 600cc. Prestasi terakhir, Ia mampu mengakhiri turnamen di ajang yang sama dengan finish di urutan kelima.

Kesuksesan Hendri menjadi inspirasi bagi Doni Tata. Pebalap asal Solo ini mampu membawa nama Indonesia berkibar lebih tinggi. Pasalnya, Tata berhasil melakoni debut pada ajang 125cc di tahun 2005. Dan pada tahun 2007, Ia debut di kelas 250cc.

Tapi sayangnya, karena kekurangan sponsorship, Tata yang kala itu berseragam Yamaha Indonesia Pertamina harus mundur. Sebelum pada tahun 2013, Ia kembali comeback dengan bergabung bersama tim Rafid Topan di ajang Moto2.

Kurang Baiknya Cara Asuh Di Indonesia

Meskipun selalu memproduksi para rider berkelas yang dapat menembus ajang Internasional. Namun Indonesia belum sekalipun berhasil mengirimkan pembalap ke kasta tertinggi, MotoGP. Padahal, negara seperti Australia dan Jepang telah berulang kali mengirimkan jagoan mereka masing-masing.

Balap Motor Indonesia
Balapan motor di Indonesia

Situasi tersebut nyatanya berujung kepada bagaimana cara asuh di setiap negara masing-masing. Ambil contoh di Italia, dimana sejak kecil anak-anak yang suka balapan sudah mengikuti turnamen minimoto. Beranjak dewasa, mereka wajib mengikuti ajang balap motor dengan kapasitas yang cukup besar, yakni 125cc.

Lantas, bagaimana di Indonesia? Di Tanah Air, para pebalap yang masih berusia muda langsung terjun ke dunia balap underbone 2-tak. Tanpa adanya pengalaman berlaga di kelas bawah, mulai dari 90cc.

Mustahil! Rekor Piala Dunia Ini Sulit Terpecahkan

Piala Dunia

Festival sepakbola empat tahunan sekali, Piala Dunia selalu menghadirkan rekor-rekor hebat. Baik itu di level tim maupun para setiap individu. Pergelaran Piala Dunia 2018 mendatang yang akan berlangsung di Rusia, peluang terciptanya rekor-rekor baru akan kembali terbuka lebar.

Piala Dunia
Piala Dunia menciptakan beberapa rekor yang sulit terpecahkan di masa depan

Akan tetapi, beberapa rekor yang tercipta sejak Piala Dunia pertama kali digelar, setidaknya terdapat lima rekor yang hingga kini belum terpecahkan. Dan berikut ini lima rekor tersebut, sebagaimana yang dilansir dari salah satu media olahraga terpercaya.

Ini Dia Lima Rekor Piala Dunia Yang Sulit Dipecahkan

  • Rekor Kartu Dalam Satu Laga

Dalam sejarah Piala Dunia, untuk pertama kalinya seorang wasit harus mengeluarkan sebanyak 16 kartu kuning dalam satu pertandingan. Rekor itu lahir pada laga antara Belanda melawan Portugal di Piala Dunia 2006 lalu. Pada laga itu juga, untuk pertama kalinya dalam buku sejarah Pildun, diwarnai empat kartu merah.

Baik The Oranye maupun Selecção das Quinas masing-masing harus bermain dengan 9 pemain hingga pertandingan berakhir. Dari timnas Portugal, Costinha dan Deco mendapatkan kartu merah. Sedangkan dari kubu Belanda, Giovanni Van Bronkhorst dan Khalid Bouhlarouz terpaksa harus mengakhiri laga dengan dini.

Kini, seiring dengan sanksi tegas yang akan diberikan oleh otoritas tertinggi sepakbola dunia, FIFA kepada tim yang bermain diluar batas. Kecil kemungkinan bahwa rekor dengan kartu terbanyak dalam satu laga tersebut terpecahkan di Piala Dunia mendatang.

  • Rekor Pemaun Termuda

Norman Whiteside, seorang pemain timnas Irlandia Utara memegang rekor sebagai pemain termuda dalam ajang Piala Dunia. Catatan itu tercipta pada perhelatan Pildun 1982. Dimana, Whiteside saat itu tampil di usia 17 tahun 41 hari.

Pemain legendaris Brasil, Edson Arantes do Nascimiento atau yang lebih dikenal dengan nama Pele juga tercatat sebagai pemain termuda. Pele menjalani debutnya bersama timnas pada usia 17 tahun 239 hari di Piala Dunia 1958 di Swedia. Meski masih muda, Pele terbukti mampu mengantarkan timnas Canarinho meraih gelar juara dunia.

  • Rekor Caps Pemain

Hingga saat ini, pemain legendaris Jerman, Lothar Matthaeus masih menjadi pemain yang paling banyak mencatatkan penampilan bersama tim Nasional di ajang Piala Dunia. Mantan pemain Bayern Munich itu telah tampil sebanyak 25 pertandingan.

Rekor tersebut sejatinya dapat dipecahkan oleh penyerang veteran Jerman, Miroslav Klose pada Piala Dunia 2014 lalu. Namun, Klose kurang mendapatkan kepercayaan oleh sang manajer. Hingga akhirnya, rekor dengan caps terbanyak masih dipegang oleh Matthaeus.

 

Milla, Sang Pemegang Rekor Pencetak Gol Tertua

Penyerang Kamerun, Roger Milla hingga saat ini menjadi pemain tertua yang mencetak gol dalam buku sejarah Piala Dunia. Milla mencatatkan rekor tersebut kala dirinya berhasil mencetak gol ke gawang Rusia pada Piala Dunia 1994 Amerika Serikat.

Roger Milla
Hingga kini, Roger Milla masih memegang rekor sebagai pencetak gol tertua di Piala Dunia

Dimana, kala itu usianya sudah menginjak 42 tahun. Milla sukses mematahkan rekornya sendiri yang kala dirinya mencetak gol di usia 39 tahun pada ajang Piala Dunia 1990 Jerman.

Pada Pildun 2014 Brasil lalu, sejatinya Faryd Mondragon bisa memecahkan rekor sebagai pencetak gol tertua. Namun, pemain senior Kolombia itu kurang mendapatkan kesempatan bermain.

Rekor Pemain Dengan Juara Dunia Terbanyak

Rekor yang satu ini mungkin akan sulit untuk dipecahkan. Adalah pemain dengan gelar juara Piala Dunia terbanyak. Dan rekor tersebut dipegang oleh legenda Brasil, Pele.

Pele
Pele menjadi pemain yang mengoleksi gelar juara dunia paling banyak, dengan koleksi tiga trofi

Pele berhasil mengantarkan timnas Kenari Kecil meraih gelar juara dunia sebanyak tiga kali. Yakni pada tahun 1958, 1962 dan terakhir di Piala Dunia 1970.

Tua-Tua Keladi! Gaya Hidup Valentino Rossi Di Usia Ke-37

Valentino Rossi

Valentino Rossi dipastikan tetap akan berkarir di MotoGP dua musim kedepan, setelah kontraknya bersama tim Movistar Yamaha kembali diperpanjang. Itu artinya, pebalap berjuluk The Doctor itu tetap akan berpartisipasi di ajang balapan motor 1000c hingga usianya menyentuh 39 tahun.

Valentino Rossi
Gaya hidup Valentino Rossi di usia ke-37 tahun

Demi tetap dapat bersaing dengan para pebalap yang berusia jauh dibawahnya. Rossi dikabarkan telah mengubah gaya balapnya. Bahkan tidak hanya gaya balap yang Ia ubah, melainkan sisi kehidupan secara keseluruhannya.

Pada tanggal 16 Februari lalu, Rossi dan para penggemarnya di seluruh dunia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-37. Pada musim 2017 ini, Rossi tetap yakin bahwa penampilannya tidak akan berbeda jauh dengan musim sebelumnya.

Bukan tanpa alasan, juara dunia MotoGP sembila kali ini memiliki berencana untuk menggenapkan gelarnya menjadi ke-10 pada musim ini. Setelah pada musim lalu gagal menjadi juara dan harus rela finish di urutan kedua klasemen akhir MotoGP. Padahal, Rossi memiliki peluang besar pada musim lalu, andai Ia naik podium (setidaknya juara tiga) pada seri terakhir yang berlangsung di Valencia, Spanyol.

“Apabila Anda perhatikan sejarah kehidupan seorang manusia, ketika manusia menginjak usia 37 tahun, tidak akan berbeda jauh dengan 36 tahun,” ungkap Rossi.

Seperti yang dilansir dari salah satu media olahraga terpercaya, Mat Oxley yang merupakan sang penulis biografi Valentino Rossi mengungkapkan bahwa The Doctor telah banyak melakukan perubahan pada gaya hidupnya. Dibandingkan dalam satu dekade terakhir ini. Hal itu karena tuntutan turnamen MotoGP yang setiap musimnya selalu ketat.

Tiga Perubahan Gaya Hidup Rossi

Pada dahulu ketika Rossi masih muda, Ia seringkali menghabiskan waktu di Ibiza, Mediterania, Spanyol. Disana, Ia bersantai dan melupakan sejenak urusan di atas lintasan. Namun, beberapa dekade terakhir ini, gaya hidup Rossi telah berubah. Dan berikut ini tiga perubahan gaya hidup sang juara dunia MotoGP sebanyak sembilan kali itu.

Valentino Rossi
Valentino Rossi ketika berlatih demi meningkatkan kondisi fisiknya
  • Tak Ada Lagi Waktu Untuk Kelab Malam

Hal pertama yang berubah dari gaya hidup Valentino Rossi adalah Ia tidak lagi menghabiskan waktu di sebuah klub malam. Atmosfer balapan juga telah merubah dan membuat Rossi harus mengikuti perkembangan tersebut. Bukan karena para lawan Rossi yang juga telah berubah dan secara teknis membalap mereka juga berbeda. Tetapi juga tuntutan fisik yang dibutuhkan untuk mengendarai motor yang memiliki berat sekitar 157 kg.

Memang, Rossi tidak perlu lagi khawatir akan menghadapi Sete Gibernau dan Max Biaggi. Lebih dari hal itu, pembalap yang identik dengan nomor 46 itu harus bekerja keras untuk menghadapi perlawanan Jorge Lorenzo dan Marc Marquez.

  • Rossi Rajin Berlatih

Saat ini, Rossi sangat rajin untuk berlatih. Rossi mengungkapkan bahwa lomba balap motor dalam dekade terakhir ini terasa lebih keras. Sehingga, Rossi lebih memilih menghabiskan waktu untuk berlatih di Tavullia, ketimbang bersenang-senang. Di tempat latihan pribadinya, Ia selalu menerpa gaya balapnya.

Selain berlatih di Tavullia, Rossi juga berlatih di gym untuk terus meningkatkan insting balapnya. Pasalnya, motor saat ini membutuhkan fisik yang lebih prima.

Kini, Rossi Lebih Displin

Perubahan gaya hidup Valentino Rossi yang ketiga adalah dimana saat ini Ia lebih displin. Bahkan dirinya juga jauh dari alkohol. Hal itu tentu untuk meningkatkan kondisi fisiknya. Dia juga terus melatih otot-ototnya.

Valentino Rossi
Valentino Rossi saat ini lebih displin

Banyak para atlet yang mudah dikalahkan dengan atlet yang lebih muda. Namun hal itu tidak berlaku untuk Rossi. Dia terbukti mampu melewati sekat generasi demi generasi.

Tragis! Kecelakaan Paling Mengerikan Di Formula 1

Formula 1

Kematian Jules Bianchi yang telah berjuang untuk tetap hidup selama kurang lebih sembilan bulan. Pasca dirinya mengalami kecelakaan mengerikan di GP Jepang. Menegaskan bahwa Federasi Balap Internasional harus kembali meningkatkan standar keselamatan para pebalap. Tercatat, sebanyak lima insiden kecelakaan di ajang balap Formula 1 yang mengakibatkan kematian pembalapnya.

Formula 1
Kecelakaan paling tragis sepanjang sejarah Formula 1

Bahkan salah satu peristiwa kecelakaan yang paling diingat sepanjang sejarah F1 melibatkan Bruce McLaren yang merupakan pendiri tim balap McLaren. Bruce harus mengakhiri hidupnya di atas lintasan. Setelah dirinya menabrak pagar pembatas di Sirkuit Goodwood, Inggris pada tahun 1970 silam.

Untuk mengenang jasa Bruce, nama McLaren di abadikan sebagai nama tim balap Formula 1 yang hingga kini terus bertahan di ajang jet darat tersebut.

Sirkuit Imola menjadi saksi dua peristiwa kecelakaan yang mengerikan di ajang F1 pada musim 1994. Bahkan, dua kecelakaan itu terjadi secara beruntun. Akibatnya, dua pebalap harus menghempuskan nafas terakhirnya di sirkuit itu.

Adalah Roland Ratzenberger dan Ayrton Senna yang menjadi korban keganasan balap F1. Dua kejadian itu menjadi petandang tahun kelam bagi dunia balap jet darat pada kala itu.

Dan ini tiga kecelakaan paling mengerikan yang terjadi sepanjang sejarah Formula 1. Yang kedepannya tentu akan menjadi pekerjaan rumah bagi FIA selaku otoritas tertinggi dunia balap. Supaya lebih meningkatkan standar keselamatan para rider.

Tiga Peristiwa Paling Mengerikan F1

  • Bruce McLaren (1970)

Walaupun Bruce McLaren belum pernah sekalipun merasakan gelar juara dunia F1. Namun, pebalap berkebangsaan Selandia Baru ini merupakan seorang pebalap legendaris.

Bruce McLaren
Bruce McLaren, salah seorang pembalap yang harus mengakhiri hidupnya di atas lintasan

Selama karirnya sebagai pebalap, McLaren telah melakoni 100 ajang balap. Dari total itu, empat diantaranya berhasil keluar sebagai pemenang. Dan sebanyak 27 kali berhasil naik ke podium. Pencapaian terhebatnya terjadi pada musim 1960, dimana Dia menjadi runner up.

Pada tahun 1963, Ia mendirikan Bruce McLaren Motor Racing Ltd yang merupakan tim balap F1. Bahkan hingga kini tim tersebut masih bertahan.

Bruce harus mengakhiri masa hidupnya di dunia pada tahun 1970. Setelah Ia menabrak dinding pembatas di Sirkuit Goodwood, Inggris.

  • Ayrton Senna (1994)

Kematian Ayrton Senna menjadi salah satu peristiwa kecelakaan yang paling diingat di Grand Prix San Marina, yang dimana sesuai tradisi dilangsungkan di Sirkuit Imola.

Ayrton Senna
Ayrton Senna mengalami kecelakaan di atas lintasan F1 pada musim 1994

Senna mengalami kecelakaan maut pada tahun 1994. Kejadian itu berawal ketika Ia memimpin balapan di atas mobil Willliams Renault hingga awal lap ke-5.

Namun, mobil yang dikendarainya mengalami suatu masalah hingga membuat Senna keluar dari lintasan. Dimana ketika dirinya memasuki tikungan Tamburello. Alhasil, Senna menabrak tembok pembatas.

Sekitar kurun waktu hanya 10 detik setelah kecelakaan itu terjadi. Bendera merah pun dikibarkan dan balapan terpaksa harus dihentikan.

Kecelakaan Roland Ratzenberger Pada Musim 1994

Formula 1 musim 1994 menjadi tahun kelam bagi dunia balap jet darat. Pasalnya, tidak hanya Ayrton Senna yang mengalami kecelakaan berujung kematian. Tetapi Roland Ratzenberger juga mengalami hal serupa.

Roland Ratzenberger
Roland Ratzenberger mengalami crash pada saat kualifikasi GP San Marino

Ratzenberger menghembuskan nafas terakhirnya kala menjalani kualifikasi GP San Marino. Pada saat itu, mobil yang dikendarainya mengalami kerusakan dan sang pebalap berusaha untuk mengamankan posisinya.

Namun, sayap mobilnya harus robek karena tekanan angin yang disebabkan oleh kecepatan yang begitu tinggi. Sayap itu meluncur tepat dibawah bagian mobilnya dan kemudian menabrak dinding pembatas dengan kecepatan 313 km/jam.

Max Mosley selaku Presiden Fomula 1 pada saat itu menghadiri upacara pemakanan Ratzenberger.

Dramatis! Kemenangan Paling Bersejarah Di MotoGP

Kemenangan MotoGP

Perhelatan MotoGP tentu seringkali menyajikan suguhan balapan yang menarik. Dan terkadang juga penuh dengan kejutan. Fakta tersebut bukanlah hal yang terasa aneh, mengingat ajang balapan ini dipenuhi dengan para pembalap terbaik di dunia. Dimana mereka selalu memberikan penampilan terbaik ketika berada di atas lintasan.

Kemenangan MotoGP
Kemenangan dramatis dalam sejarah MotoGP

Ketatnya balapan kerap kali membuat jantung para penonton berdetak kencang. Baik penonton yang menyaksikan langsung di sirkuit. Maupun penonton dari balik layar kaca televisi. Manuver-manuver berbahaya yang sering dilakukan antarpembalap menjadi hal yang lumrah di setiap balapan.

Tidak heran bahwa beberapa kemenangan seorang pebalap diraih secara dramatis. Salah satu contohnya adalah ketika Valentino Rossi berhasil keluar sebagai pemenang, setelah mengalahkan perlawanan sengit Sete Gibernau.

Contoh teranyar yakni kemenangan yang diraih pembalap Ducati Corse, Andrea Dovizioso pada MotoGP Austria yang berlangsung di Sirkuit Red Bull Ring. Rider asal Italia itu terpaksa harus berusaha lebih keras untuk melawan pembalap Repsol Honda, Marc Marquez. Bahkan, persaingan itu berlangsung hingga lap terakhir.

Kedua rider tersebut terlihat saling salip menyalip. Bahkan, Marquez harus melakukan sebuah manuver yang beresiko pada tikungan terakhir demi menyalip Dovi. Namun sayangnya, usaha The Baby Alien itu tidak membuahkan hasil.

Pebalap asal Spanyol itu terpaksa harus mengakhiri balapan dengan hanya finish di urutan kedua. Sementara, Dovi sukses menjadi yang tercepat di GP Austria.

Lantas, momen-momen dramatis seperti apa lagi yang terjadi di perhelatan MotoGP sepanjang sejarah? Berikut ini ulasan selengkapnya.

Tiga Kemenangan Dramatis MotoGP

Valentino Rossi dan Sete Gibernau
Duel ketat antara Valentino Rossi dengan Sete Gibernau
  • Valentino Rossi vs Sete Gibernau

Valentino Rossi mengawali balapan di Sirkuit Jerez, Spanyol pada MotoGP musim 2005 dari pole position. Sedangkan Sete Gibernau berada di urutan kedua. Sejak awal balapan, keduanya sudah menunjukkan kehebatannya di atas lintasan.

Pada lap terakhir, jarak kedua rider itu terbilang sangat tipis. Bahkan The Doctor sempat bersenggolan dengan Gibernau yang membuatnya keluar dari lintasan.

Namun, Rossi pada akhirnya berhasil keluar sebagai kampiun dengan catatan waktu 45 menit 43,156 detik. Sementara Gibernau harus puas finish di urutan kedua dengan catatan waktu 8,631 detik lebih lambat.

  • Valentino Rossi vs Casey Stoner

Balapan paling sengit lainnya adalah terjadi di MotoGP Amerika Serikat musim 2008. Dimana Rossi yang membela tim Yamaha terlibat persaingan ketat dengan pembalap Ducati Corse, Casey Stoner.

Kedua pebalap itu saling balap membalap sepanjang balapan. Bahkan mereka tidak ragu untuk melakukan beberapa manuver berbahaya. Karena jarak kedua pebalap itu begitu tipis.

Pada akhirnya, pembalap asal Italia itu sukses keluar sebagai pemenang. Setelah Stoner di lap terakhir melakukan kesalahan, yakni terlalu melebar. Meski begitu, Stoner tetap mengunci tempat kedua.

Valentino Rossi vs Marc Marquez

Bukan lagi sebuah rahasia besar bahwa perhelatan MotoGP yang berlangsung di Sirkuit Assen menjadi balapan favorit bagi Rossi. Pada musim 2015, The Doctor mengawali balapan dari posisi terdepan.

Valentino Rossi dan Marc Marquez
Sirkuit Assen menjadi salah satu momen persaingan sengit antara Valentino Rossi dengan Marc Marquez

Kemudian, Rossi harus terlibat persaingan sengit dengan Marc Marquez. Saling salip menyalip diperagakan keduanya. Hingga pada lap penentu, keduanya terlihat bersenggolan.

Atas insiden itu, Rossi terpaksa keluar dari jalur lintasan dan memotong jalur gravel. Sedangkan Marquez tetap mampu mempertahankan kuda besinya di dalam lintasan.

Meski sempat keluar lintasan, Rossi tetap mampu mengakhiri balapan sebagai pemenang dengan catatan waktu 40 menit 54,037 detik. Adapun The Baby Alien mencatatkan waktu lebih lambat 1,242 detik.

Fakta! Sejarah Lahirnya Piala Konfederasi

Piala Konfederasi

Pergelaran festival bola empat tahun sekali selain Piala Dunia, adalah Piala Konfederasi. Dan tahun 2017 ini, Piala Konfederasi telah selesai bergulir dengan Timnas Jerman keluar sebagai juara. Setelah The Panser sukses mengalahkan wakil Amerika, Cile di partai final dengan skor tipis, 0-1. Satu-satunya gol pada laga yang berlangsung di Stadion Krestovsky itu diciptakan oleh Lars Stindl di menit ke-20.

Piala Konfederasi
Piala Konfederasi adalah kejuaraan yang mempertemukan antara para juara di berbagai turnamen dunia

Timnas Jerman tidak hanya pulang dengan membawa trofi juara, namun mereka juga menyabet gelar FIFA Fair Play Award. Bahkan, di level individu, Julian Draxler yang berposisi sebagai gelandang serang juga sukses mengukuhkan namanya sebagai peraih Golden Ball. Dan juga Timo Werner yang menyabet gelar Golden Boot.

Sesuai namanya, Piala Konfederasi merupakan festival sepakbola yang mempertemukan para juara dari sejumlah konfederasi. Diantaranya, UEFA (Eropa), CONCACAF (Amerika Utara, Amerika Tengah dan Kepulauan Karibia), CONMEBOL (Amerika Selatan), AFC (Asia), OFC (Osenia) dan CAF (Afrika).

Konsep yang digagas di Piala Konfederasi ini sejatinya sangat prestisius. Bagaimana tidak, pasalnya kejuaraan ini mempertemukan para juara dari berbagai penjuru dunia yang akan saling bertarung di dalamnya. Akan tetapi, hal itu ternyata tidak membuat nama festival bola yang untuk pertama kalinya digelar pada tahun 1992 ini melebihi pergelaran Piala Dunia.

Selain kejuaraan ini bermaksud sebagai ajang pemanasan Piala Dunia, sejumlah timnas yang mengikuti ajang ini ternyata juga tidak membawa skuat terbaiknya. Seperti Timnas Jerman yang tidak menurunkan para pemain terbaiknya. Namun, justru The Panser berhasil keluar sebagai juara.

Tahun 2017 ini, Piala Konfederasi memasuki edisi ke-10 dan digelar di Rusia yang memang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 mendatang. Sebanyak delapan tim berpartisipasi di turnamen empat tahunan ini. Diantaranya, Rusia, Portugal (UERO 2016), Cile (Copa Amerika 2015), Jerman (Piala Dunia 2014), Meksiko (Piala Emas CONCACAF 2015), Selandia Baru (Piala Oseania 2016), Kamerun (Piala Afrika 2017) dan Australia (Piala Asia 2015).

Piala Raja Fahd , Tonggak Awal Piala Konfederasi

Menilik sejarah, Piala Konfederasi pertama kali bergulir pada tahun 1992 lalu. Namun, inisiasi mengenai lahirnya turnamen sepakbola ini telah ada sejak tahun 1980 silam. Inspirasi utama terciptanya Piala Konfederasi ini adalah Kejuaraan Mundialito.

Piala Konfederasi
Piala Raja Fahd merupakan cikal bakal Piala Konfederasi

Hal itu dikarenakan Kejuaraan Mundialito mengusung konsep yang tidak berbeda jauh dengan kejuaraan empat tahunan ini. Yaitu, sama-sama mempertemukan para juara dalam satu ajang turnamen. Letak perbeadaannya adalah, dimana Mundialito mempertemukan enam juara Piala Dunia. Sementara Piala Konfederasi mempertemukan para juara dari berbagai ajang kompetisi level internasional semua benua di dunia.

Piala Raja Fahd yang berlangsung di Arab Saudi pada tahun 1992 silam, menjadi tonggak awal embrio kelahiran Piala Konfederasi. Adapun penggagas kejuaraan tersebut adalah Sultan bin Fahd Abdulaziz Al Saud, yang merupakan putra mahkota Arab Saudi. Sultan ingin mendedikasikan pergelaran turnamen tersebut untuk sang ayahanda. Sehingga diberi nama Piala Raja Fahd.

Ketika ajang tersebut memasuki edisi ke-3, FIFA secara resmi menjadi pengelola turnamen tersebut. Kemudian, ajang itu berganti nama menjadi Piala Konfederasi. Pada tahun 2001, FIFA memutuskan untuk menjadikan Piala Konfederasi ini sebagai ajang kesiapan tuan rumah Piala Dunia dan digelar empat tahun sekali.

Daftar Juara Piala Konfederasi 1992 Hingga 2017

Timnas Jerman
Timnas Jerman berhasil keluar sebagai juara Piala Konfederasi 2017
  • 1992 : Argentina
  • 1995 : Denmark
  • 1997 : Brasil
  • 1999 : Meksiko
  • 2001 : Perancis
  • 2003 : Perancis
  • 2005 : Brasil
  • 2009 : Brasil
  • 2013 : Brasil
  • 2017 : Jerman

Terdapat satu fakta dari Piala Konfederasi ini, yaitu dimana belum ada satu tim yang berhasil keluar sebagai juara Piala Dunia. Setelah sebelumnya sukses menyabet gelar juara Piala Konfederasi.