Mitos Atau Fakta! Juara MotoGP dan Penjualan Motor

MotoGP

Keberhasilan meraih gelar juara dunia MotoGP sering dianggap sejalan dengan kenaikan penjualan unit sepeda motor terhadap tim juara tersebut.  Hal semacam itu dianggap berkaitan dengan tanah kelahiran kita, Indonesia. Lantas hal itu fakta atau hanya sekedar mitos?

MotoGP
Mitos atau Fakta? Juara MotoGP tingkatkan penjualan unit motor tim juara

Bukan hanya hal yang membanggakan bagi tim yang berhasil memenangi gelar juara dunia di ajang MotoGP. Tetapi, motor merk sang juara itu juga akan ikut terangkat. Akan tapi, keberhasilan tim dalam menjuarai MotoGP tidak sepenuhnya dapat dikaitkan dengan persoalan penjualan.

Sekilas, apabila dilihat dari data penjualan motor di Tanah Air dengan tim pemenang MotoGP dalam kurung waktu 2006 hingga 2015 lalu. Pencapaian cemerlang di ajang balap paling bergengsi itu memang berbanding lurus dengan nilai kenaikan penjualan unit sepeda motor.

Pada musim 2008 hingga 2010 lalu, ketika Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi meraih gelar juara dunia bersama tim Yamaha. Rata-rata penjualan pabrikan asal Jepang pada kurung waktu tiga tahun itu mengalami kenaikan mencapai angka 13,5 persen setiap tahunnya.

Sebelumnya di tahun 2008, sebanyak 2,4 juta unit sepeda motor Yamaha terjual. Setahun berikutnya, naik menjadi 2,6 juta unit. Dan di tahun 2010, mengalami kenaikan yang cukup tinggi, yakni sebanyak 3,3 juta unit terjual.

Ternyata, hal itu juga terjadi pada Honda. Pada saat pembalapnya, Marc Marquez berhasil mengangkat trofi juara dunia sebanyak dua musim berturut-turut, yakni musim 2013 dan 2014. Tingkat penjualan motor Honda di Indonesia juga mengalami kenaikan, bahkan hingga 10 persen.

Di tahun 2012 ketika Honda tidak keluar sebagai juara, penjualannya hanya mencapai 4 juta unit. Akan tapi, naik menjadi 4,6 juta di tahun 2013. Hingga puncaknya di tahun 2014, 5 juta unit sepeda motor Honda terjual. Bahkan pada tahun 2011 lalu ketika Casey Stoner juara, Honda juga mengalami peningkatan 20 persen.

Ibaratkan Dua Sisi Mata Uang

Ketika tim motor di MotoGP gagal meraih gelar juara dunia, penurunan penjualan juga terjadi. Khususnya bagi produsen Honda. Dimana pada musim 2007, pada saat Ducati keluar sebagai juara, membuat penjualan motor pabrikan Jepang itu mengalami penurunan yang mencapai minus sembilan persen.

Marc Marquez
Musim 2016 lalu, Marc Marquez kembali meraih gelar juara dunia MotoGP

Ternyata, hal itu juga dialami oleh Yamaha, tepatnya pada tahun 2009 lalu. Tahun tersebut, penjualan Yamaha turun hingga mencapai angka enam persen. Pada tahun 2012 juga turun empat persen.

Puncaknya tahun 2015, Yamaha harus mencatat angka terbesar dalam satu dekade. Pasalnya, penurunan penjualan mencapai 13 persen. Kondisi seperti juga terjadi pada tahun 2011 sebesar enam persen dan 2014 sebesar lima persen.

Akan tetapi jika ditelisik lebih dalam, data-data yang telah dipaparkan di atas itu setidak sepenuhnya dikatakan benar. Terdapat beberapa anomali yang terjadi apabila mengaitkan status juara MotoGP dan data penjualan motor.

Tidak Tergantung MotoGP

Apabila membandingkan persentase rata-rata angka pertumbuhan penjualan antara Yamaha dengan Honda dalam kurung waktu 2006 hingga 2015. Maka pemenangnya adalah Honda, yang mencatatkan rerata 6 persen setiap tahunnya. Sementara Yamaha, cederung stagnan tidak mengalami pertumbuhan atau 8 persen.

Jorge Lorenzo
Jorge Lorenzo menjadi juara MotoGP musim 2015

Padahal jika diperhatikan dalam kurung waktu tersebut, Yamaha lebih banyak meraih gelar juara dunia MotoGP dibandingkan Honda. Yakni, Yamaha sebanyak lima kali dan Honda hanya empat kali.

Sehingga hal yang menentukan penjualan unit sepeda motor di Indonesia bukan tergantung pada pergelaran MotoGP. Bukan seorang Valentino Rossi, Marc Marquez, Casey Stoner ataupun Jorge Lorenzo. Dengan kata lain, bahwa juara MotoGP akan berdampak pada data penjualan unit motor sang juara itu sendiri adalah mitos.

Mencengangkan! Sejarah MotoGP di Indonesia

MotoGP Indonesia

Sejarah MotoGP di Indonesia terjadi ketika pertama kali mengudara melalui layar kaca pada pertengahan tahun 1990-an. Ajang lomba balap kendaraan beroda dua paling bergengsi di dunia ini secara perlahan mampu menarik perhatian.

MotoGP Indonesia
Indonesia sempat jadi tuan rumah MotoGP musim 1996 dan 1997

Terlebih Tanah Air, yang dahulu kala sempat mengambil bagian dengan menjadi tuan rumah pada musim 1996 hingga 1997. Pada saat itu, Valentino Rossi masih bermain di kasta ketiga, yakni 125cc.

Kompetisi yang berjalan dengan ketat, ditambah lagi dengan aksi para rider dan drama yang terjadi diluar lintasan. Menjadikan ajang MotoGP ini sebagai kiblat para pembalap di Indonesia. Tidak heran, Indonesia berada di urutan pertama di dunia dalam hal penggemar MotoGP.

Lin Jarvis selaku bos besar Yamaha Racing Team mengatakan: “Indonesia merupakan negara dengan pasar motor yang sangat penting. Dan banyaknya para penggemar MotoGP disana,” ungkap Lin.

Pertumbuhan fanbase yang berjalan begitu pesat, nyatanya tidak hanya berdampak besar bagi ajang MotoGP itu sendiri. Melainkan juga sangat berpengaruh akan masa depan dunia balap di Tanah Air.

Tidak hanya sekedar menjadi penonton belaka. Tetapi para penggemar MotoGP di Indonesia juga senang dengan balapan. Tak hayal, sebagian dari mereka ingin mengikuti ajang balap Nasional. Tentu saja dengan target utama adalah dapat mencicipi kerasnya persaingan MotoGP.

Berawal Dari Tahun 90-an

Semua impian masyarakat Indonesia, terkhusus mereka yang suka balapan untuk dapat berpartisipasi di ajang MotoGP. Sempat terbuka oleh tiga rider senior, adalah Ahmad Wijaya, Rudi Arianto dan Petrus Canisius. Yang pada saat itu mereka tampil sebagai rider wildcard di Indonesia.

Doni Tata
Doni Tata ketika melakukan berkancah di Moto2

Walaupun mengakhiri balapan di Sentul dengan finish terakhir. Dan mereka bertiga mendapatkan jalur khusus di MotoGP pada saat itu. Mengingat Indonesia sebagai tim tuan rumah. Akan tetapi, ketiga memberikan inspirasi dan motivasi bagi para pebalap junior-junior. Bahwa ada kesempatan untuk dapat tampil di ajang tertinggi dunia balap motor, MotoGP.

Hingga muncul seorang pembalap bernama Hendriansyah. Seorang pria kelahiran Yogyakarta yang dijuluki sebagai ‘dewanya road race’. Julukan itu seiring dengan pencapaian prestasi Hendri di dunia balap Indonesia.

Pada era underbone 2-tak, rider ini berhasil meraih beberapa gelar juara bergengsi. Antara lain seperti Kejurnas 110 Grade A pada tahun 1998 hingga ajang Road Race 110 4-tak.

Tidak berhenti disitu, Hendri juga berhasil menyita perhatian tim asal Tiongkok, Macau Zhongsen Racing Tea. Hasilnya, Hendri direkrut oleh tim tersebut. Dan berhasil meraih gelar juara 11 pada ajang Supersport 600cc. Prestasi terakhir, Ia mampu mengakhiri turnamen di ajang yang sama dengan finish di urutan kelima.

Kesuksesan Hendri menjadi inspirasi bagi Doni Tata. Pebalap asal Solo ini mampu membawa nama Indonesia berkibar lebih tinggi. Pasalnya, Tata berhasil melakoni debut pada ajang 125cc di tahun 2005. Dan pada tahun 2007, Ia debut di kelas 250cc.

Tapi sayangnya, karena kekurangan sponsorship, Tata yang kala itu berseragam Yamaha Indonesia Pertamina harus mundur. Sebelum pada tahun 2013, Ia kembali comeback dengan bergabung bersama tim Rafid Topan di ajang Moto2.

Kurang Baiknya Cara Asuh Di Indonesia

Meskipun selalu memproduksi para rider berkelas yang dapat menembus ajang Internasional. Namun Indonesia belum sekalipun berhasil mengirimkan pembalap ke kasta tertinggi, MotoGP. Padahal, negara seperti Australia dan Jepang telah berulang kali mengirimkan jagoan mereka masing-masing.

Balap Motor Indonesia
Balapan motor di Indonesia

Situasi tersebut nyatanya berujung kepada bagaimana cara asuh di setiap negara masing-masing. Ambil contoh di Italia, dimana sejak kecil anak-anak yang suka balapan sudah mengikuti turnamen minimoto. Beranjak dewasa, mereka wajib mengikuti ajang balap motor dengan kapasitas yang cukup besar, yakni 125cc.

Lantas, bagaimana di Indonesia? Di Tanah Air, para pebalap yang masih berusia muda langsung terjun ke dunia balap underbone 2-tak. Tanpa adanya pengalaman berlaga di kelas bawah, mulai dari 90cc.

Tua-Tua Keladi! Gaya Hidup Valentino Rossi Di Usia Ke-37

Valentino Rossi

Valentino Rossi dipastikan tetap akan berkarir di MotoGP dua musim kedepan, setelah kontraknya bersama tim Movistar Yamaha kembali diperpanjang. Itu artinya, pebalap berjuluk The Doctor itu tetap akan berpartisipasi di ajang balapan motor 1000c hingga usianya menyentuh 39 tahun.

Valentino Rossi
Gaya hidup Valentino Rossi di usia ke-37 tahun

Demi tetap dapat bersaing dengan para pebalap yang berusia jauh dibawahnya. Rossi dikabarkan telah mengubah gaya balapnya. Bahkan tidak hanya gaya balap yang Ia ubah, melainkan sisi kehidupan secara keseluruhannya.

Pada tanggal 16 Februari lalu, Rossi dan para penggemarnya di seluruh dunia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-37. Pada musim 2017 ini, Rossi tetap yakin bahwa penampilannya tidak akan berbeda jauh dengan musim sebelumnya.

Bukan tanpa alasan, juara dunia MotoGP sembila kali ini memiliki berencana untuk menggenapkan gelarnya menjadi ke-10 pada musim ini. Setelah pada musim lalu gagal menjadi juara dan harus rela finish di urutan kedua klasemen akhir MotoGP. Padahal, Rossi memiliki peluang besar pada musim lalu, andai Ia naik podium (setidaknya juara tiga) pada seri terakhir yang berlangsung di Valencia, Spanyol.

“Apabila Anda perhatikan sejarah kehidupan seorang manusia, ketika manusia menginjak usia 37 tahun, tidak akan berbeda jauh dengan 36 tahun,” ungkap Rossi.

Seperti yang dilansir dari salah satu media olahraga terpercaya, Mat Oxley yang merupakan sang penulis biografi Valentino Rossi mengungkapkan bahwa The Doctor telah banyak melakukan perubahan pada gaya hidupnya. Dibandingkan dalam satu dekade terakhir ini. Hal itu karena tuntutan turnamen MotoGP yang setiap musimnya selalu ketat.

Tiga Perubahan Gaya Hidup Rossi

Pada dahulu ketika Rossi masih muda, Ia seringkali menghabiskan waktu di Ibiza, Mediterania, Spanyol. Disana, Ia bersantai dan melupakan sejenak urusan di atas lintasan. Namun, beberapa dekade terakhir ini, gaya hidup Rossi telah berubah. Dan berikut ini tiga perubahan gaya hidup sang juara dunia MotoGP sebanyak sembilan kali itu.

Valentino Rossi
Valentino Rossi ketika berlatih demi meningkatkan kondisi fisiknya
  • Tak Ada Lagi Waktu Untuk Kelab Malam

Hal pertama yang berubah dari gaya hidup Valentino Rossi adalah Ia tidak lagi menghabiskan waktu di sebuah klub malam. Atmosfer balapan juga telah merubah dan membuat Rossi harus mengikuti perkembangan tersebut. Bukan karena para lawan Rossi yang juga telah berubah dan secara teknis membalap mereka juga berbeda. Tetapi juga tuntutan fisik yang dibutuhkan untuk mengendarai motor yang memiliki berat sekitar 157 kg.

Memang, Rossi tidak perlu lagi khawatir akan menghadapi Sete Gibernau dan Max Biaggi. Lebih dari hal itu, pembalap yang identik dengan nomor 46 itu harus bekerja keras untuk menghadapi perlawanan Jorge Lorenzo dan Marc Marquez.

  • Rossi Rajin Berlatih

Saat ini, Rossi sangat rajin untuk berlatih. Rossi mengungkapkan bahwa lomba balap motor dalam dekade terakhir ini terasa lebih keras. Sehingga, Rossi lebih memilih menghabiskan waktu untuk berlatih di Tavullia, ketimbang bersenang-senang. Di tempat latihan pribadinya, Ia selalu menerpa gaya balapnya.

Selain berlatih di Tavullia, Rossi juga berlatih di gym untuk terus meningkatkan insting balapnya. Pasalnya, motor saat ini membutuhkan fisik yang lebih prima.

Kini, Rossi Lebih Displin

Perubahan gaya hidup Valentino Rossi yang ketiga adalah dimana saat ini Ia lebih displin. Bahkan dirinya juga jauh dari alkohol. Hal itu tentu untuk meningkatkan kondisi fisiknya. Dia juga terus melatih otot-ototnya.

Valentino Rossi
Valentino Rossi saat ini lebih displin

Banyak para atlet yang mudah dikalahkan dengan atlet yang lebih muda. Namun hal itu tidak berlaku untuk Rossi. Dia terbukti mampu melewati sekat generasi demi generasi.